Penduduk, Masyarakat, dan Kebudayaan

Pertumbuhan penduduk


Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan "per waktu unit" untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah pada manusia, dan sering digunakan secara informal untuk sebutan demografi nilai pertumbuhan penduduk, dan digunakan untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk dunia.
Model  pertumbuhan  penduduk  meliputi  Model  Pertumbuhan  Malthusian  dan  model  logistik.

·         Nilai pertumbuhan penduduk
Dalam demografi dan ekologi, nilai pertumbuhan penduduk (NPP) adalah nilai kecil dimana jumlah individu dalam sebuah populasi meningkat. NPP hanya merujuk pada perubahan populasi pada periode waktu unit, sering diartikan sebagai persentase jumlah individu dalam populasi ketika dimulainya periode.

·         Nilai pertumbuhan penduduk dunia


400px-Population_growth_rate_world.PNG
Nilai pertumbuhan penduduk tahunan dalam persen,
 tertulis di CIA World Factbook (perkiraan 2006)

Ketika pertumbuhan penduduk dapat melewati kapasitas muat suatu wilayah atau lingkungan hasilnya berakhir dengan kelebihan penduduk. Gangguan dalam populasi manusia dapat menyebabkan masalah seperti polusi dan kemacetan lalu lintas, meskipun dapat ditutupi perubahan teknologi dan ekonomi. Wilayah tersebut dapat dianggap "kurang penduduk" bila populasi tidak cukup besar untuk mengelola sebuah sistem ekonomi (lihat penurunan penduduk).

KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN


            Menurut teori tabula rasa, John Locke 1690 memiliki pengertian bahwa manusia yang baru lahir adalah bagaikan batu tulis bersih, dan akan menjadi apakah seseorang dalam hidupnya, dituliskan pada batu tersebut menurut potensi pertumbuhan kepribadiannya secara biologis adalah identik, dan kepribadiannya saat dewasa adalah hasil dari pengalamannya setelah lahir ke dunia ini, yang juga berbeda menurut kebudayaan masing-masing.



·         DIRI PRIBADI (THE SELF) DAN LINGKUNGAN PERILAKU

            Kebudayaan diciptakan dan dipelajari, tidak diwariskan secara biologis maka semua masyarakat bagaimanapun caranya harus dapat menjamin penerusan kebudayaan itu dari generasi ke generasi, dimulai setelah proses kelahiran dan proses tersebut dikenal dengan enkulturasi.

Diri Pribadi (The Self)
Enkultirasi dimulai dengan adanya kesadaran diri (self-awareness), yakni kemampuan untuk mengidentifikasikan diri sendiri sebagai objek untuk bereaksi terhadap diri sendiri dan juga untuk menilai diri sendiri.

Lingkungan Perilaku
Kesadaran diri dapat tumbuh dan berfungsi memerlukan adanya orientasi dasar yang membentuk psikologis pribadi itu sendiri. Dengan begitu tiap individu harus mempelajari dunia objek yang bukan dirinya sendiri, dunia objektif dapat dilihat dengan kacamata cultural. Contohnya, kebudayaan yang berlainan dalam memahami arti gunung. Orang Amerika Utara menganggap Gunung Kathadin mempesona dan menyenangkan untuk didaki, sedangkan bagi orang Indian Penobscot gunung adalah kediaman makhluk supranatural yang menakutkan, dan hanya orang gila yang berpikir untuk mendakinya.

Masyarakat Barat yang tetap berpegang pada tafsiran yang tidak ilmiah disebut “kreasionisme ilmiah” dan itu adalah contoh dari zaman sekarang. Dalam semua kebudayaan nama dan ciri khas dari suatu tempat adalah sarana penting untuk menemukan dan menunjukkan titik acuan (point of reference) dalam orientasi ruang. Orientasi waktu juga merupakan bagian dari orientasi perilaku, seperti orientasi lingkungan yang dikenal berdasar pada kebudayaan.

Aspek lingkungan perilaku adalah orientasi normatif, yakni nilai, cita-cita dan standart yang berasal dari kebudayaan. Dalam hal ini contohnya orang Indian Penobscot suku yang hidup dari berburu dan meramu makanan. Mereka menganggap individu terdiri dari tubuh dan “pribadi vital”. Kegiatan pribadi vital yang dimaksud adalah ketika kita bermimpi, apabila pribadi vital dalam waktu yang wajar dapat kembali ke tubuh maka akan tetap sehat, tapi bila terhalang kembali ke tubuh maka orang tersebut bisa meninggal. Kepercayaan kuno itu sendiri ada  berkaitan dengan pola afektif (patterns of affect), bagaimana perasaan orang tentang dirinya sendiri dan orang lain, dan cirri tersebut mungkin akan bertahan selama ribuan tahun.



·         KEPRIBADIAN

            Dalam proses enkulturasi tiap individu diperkenankan dengan konsep diri pribadi dan lingkungan tata kelakuan yang khas untuk kebudayaannya. Akibatnya terbentuk peta kognitif dari alam dengan fungsinya yang digunakan sebagai acuan dalam pikiran manusia. Peta kognitif sendiri adalah sebuah kumpulan presepsi yang bersifat integral dan dinamis, termasuk konsepsi tentang diri dan lingkungan. Oleh karena itu kepribadian adalah produk enkulturasi, dialami oleh tiap individu dengan watak genetik masing-masing, kepribadian tidak dapat didefinisikan secara formal tapi dapat dianggap sebagai cara khas seseorang dalam berpikir, merasa dan bertindak.

Perkembangan Kepribadian

Ahli teori psikoanalisis menganggap kepribadian orang dewasa sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil. Kepustakaan dari seorang psikoanalisis bersifat uraian panjang tentang konsep, spekulasi, dan data klinis sedangkan tidak begitu berhubungan dengan kebudayaan. Sebaliknya ahli antropologi menaruh perhatian besar pada studi dengan usaha membuktikan, memodifikasi, atau memberi keterangan tentang anggapan itu.

Contohnya seorang ahli antropologi Margarett Mead pergi ke Samoa untuk melakukan sebuah penelitian. Orang-orang di Samoa memiliki batasan yang keras dalam pertumbuhan hidupnya. Seperti anak kecil harus tenang, bangun pagi, penurut bermain dan bergembira. Remaja harus bekerja dengan rajin dan terampil, kawin dengan bijak, tidak membuat onar. Orang dewasa harus bujak, suka damai, dan menjaga prestis desa dengan baik. Masyarakat Samoa menganggap hubungan seks sebelum menikah biasa saja dan tidak banyak diberi perhatian. Maka dari itu “Masyarakat remaja tidak dengan sendirinya terdiri dari masa stress dan ketegangan, tapi kondisi kebudayaanlah yang membuat demikian”. Contoh lainnya adalah Oedipus complex Freud yaitu keinginan seksual anak laki-laki terhadap ibunya. Seperti yang kita ketahui masyarakat zaman dahulu sangat patriakal dengan ayah yang memegang hak seksual atas saudara dan anak perempuannya. Para laki-laki dikucilkan dalam hal seksual, sehingga mereka memberontak dan membunuh serta memakan ayah mereka. Karena perasaan bersalah lelaki bersaudara itu menekan keinginan seksual mereka pada ibu dan juga saudara perempuannya, dari sanalah lahirnya tabu incest dan eksogami.


Kebudayaan Barat

Budaya Barat (kadang-kadang disamakan dengan peradaban Barat atau peradaban Eropa), mengacu pada budaya yang berasal dari Eropa.
Istilah "budaya Barat" digunakan sangat luas untuk merujuk pada warisan norma-norma sosial, nilai-nilai etika, adat istiadat, keyakinan agama, sistem politik, artefak budaya khusus, serta teknologi. Secara spesifik, istilah budaya Barat dapat ditujukan terhadap:
Pengaruh budaya Klasik dan Renaisans Yunani-Romawi dalam hal seni, filsafat, sastra, dan tema hukum dan tradisi, dampak sosial budaya dari periode migrasi dan warisan budaya Keltik, Jermanik, Romanik, Slavik, dan kelompok etnis lainnya, serta dalam hal tradisi rasionalisme dalam berbagai bidang kehidupan yang dikembangkan oleh filosofi Helenistik, skolastisisme, humanisme, revolusi ilmiah dan pencerahan, dan termasuk pula pemikiran politik, argumen rasional umum yang mendukung kebebasan berpikir, hak asasi manusia, kesetaraan dan nilai-nilai demokrasi yang menentang irasionalitas dan teokrasi.
Pengaruh budaya Alkitab-Kristiani dalam hal pemikiran rohani, adat dan dalam tradisi etika atau moral, selama masa Pasca Klasik.
Pengaruh budaya Eropa Barat dalam hal seni, musik, cerita rakyat, etika dan tradisi lisan, dengan tema-tema yang dikembangkan lebih lanjut selama masa Romantisisme.
Konsep budaya Barat umumnya terkait dengan definisi klasik dari Dunia Barat. Dalam definisi ini, kebudayaan Barat adalah himpunan sastra, sains, politik, serta prinsip-prinsip artistik dan filosofi yang membedakannya dari peradaban lain. Sebagian besar rangkaian tradisi dan pengetahuan tersebut umumnya telah dikumpulkan dalam kanon Barat. Istilah ini juga telah dihubungkan dengan negara-negara yang sejarahnya amat dipengaruhi oleh imigrasi atau kolonisasi orang-orang Eropa, misalnya seperti negara-negara di benua Amerika dan Australasia, dan tidak terbatas hanya oleh imigran dari Eropa Barat. Eropa Tengah juga dianggap sebagai penyumbang unsur-unsur asli dari kebudayaan Barat.
Beberapa kecenderungan yang dianggap mendefinisikan masyarakat Barat moderen, antara lain dengan adanya pluralisme politik, berbagai subkultur atau budaya tandingan penting (seperti gerakan-gerakan Zaman Baru), serta peningkatan sinkretisme budaya sebagai akibat dari globalisasi dan migrasi manusia.
Budaya Barat (kadang-kadang disamakan dengan peradaban Barat atau peradaban Eropa), mengacu pada budaya yang berasal dari Eropa.
Istilah "budaya Barat" digunakan sangat luas untuk merujuk pada warisan norma-norma sosial, nilai-nilai etika, adat istiadat, keyakinan agama, sistem politik, artefak budaya khusus, serta teknologi. Secara spesifik, istilah budaya Barat dapat ditujukan terhadap:
Pengaruh budaya Klasik dan Renaisans Yunani-Romawi dalam hal seni, filsafat, sastra, dan tema hukum dan tradisi, dampak sosial budaya dari periode migrasi dan warisan budaya Keltik, Jermanik, Romanik, Slavik, dan kelompok etnis lainnya, serta dalam hal tradisi rasionalisme dalam berbagai bidang kehidupan yang dikembangkan oleh filosofi Helenistik, skolastisisme, humanisme, revolusi ilmiah dan pencerahan, dan termasuk pula pemikiran politik, argumen rasional umum yang mendukung kebebasan berpikir, hak asasi manusia, kesetaraan dan nilai-nilai demokrasi yang menentang irasionalitas dan teokrasi.
Pengaruh budaya Alkitab-Kristiani dalam hal pemikiran rohani, adat dan dalam tradisi etika atau moral, selama masa Pasca Klasik.
Pengaruh budaya Eropa Barat dalam hal seni, musik, cerita rakyat, etika dan tradisi lisan, dengan tema-tema yang dikembangkan lebih lanjut selama masa Romantisisme.
Konsep budaya Barat umumnya terkait dengan definisi klasik dari Dunia Barat. Dalam definisi ini, kebudayaan Barat adalah himpunan sastra, sains, politik, serta prinsip-prinsip artistik dan filosofi yang membedakannya dari peradaban lain. Sebagian besar rangkaian tradisi dan pengetahuan tersebut umumnya telah dikumpulkan dalam kanon Barat. Istilah ini juga telah dihubungkan dengan negara-negara yang sejarahnya amat dipengaruhi oleh imigrasi atau kolonisasi orang-orang Eropa, misalnya seperti negara-negara di benua Amerika dan Australasia, dan tidak terbatas hanya oleh imigran dari Eropa Barat. Eropa Tengah juga dianggap sebagai penyumbang unsur-unsur asli dari kebudayaan Barat.
Beberapa kecenderungan yang dianggap mendefinisikan masyarakat Barat moderen, antara lain dengan adanya pluralisme politik, berbagai subkultur atau budaya tandingan penting (seperti gerakan-gerakan Zaman Baru), serta peningkatan sinkretisme budaya sebagai akibat dari globalisasi dan migrasi manusia.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas 2 Bahasa Inggris Bisnis 2 Motivation Letter

Perbandingan Sistem Cerdas Tentang Tekhnologi Di 3 Negara Asia

Tugas Softskill Pertemuan 4 Implementasi Analisis TI Pada Perusahaan